Kemerdekaan paling puncak yang kita miliki adalah

Kebebasan memilih Sikap

Victor Frankl

Diterbitkan 07 Oct 2019

Diskusi Lethal Autonomous Weapons: Should Killer Robot Be Banned ?


Pada 20 Agustus 2019, Pusat Penelitian Politik LIPI mengadakan diskusi dengan judul Lethal Autonomous Weapons: Should Killer Robot Be Banned?, sebuah tema yang sedang menjadi diskursus di bidang teknologi persenjataan dunia. Bertempat di Ruang Rapat Utama P2P LIPI Lantai 11, diskusi ini menghadirkan Dr. M. Riefqi Muna, M. DefStud. (Peneliti Senior P2P-LIPI) sebagai penyaji dan moderator Putri Ariza Kristimanta, M.Si (Han), peneliti P2P-LIPI.

Mengawali paparannya, Riefqi menekankan dukungannya terhadap pelarangan Lethal Autonomous Weapons System (LAWS) dalam peperangan. LAWS adalah sistem persenjataan di mana robot otomatis memiliki serangkaian algoritma untuk mencari dan menyerang target yang telah diprogram sebelumnya. Berbeda dengan drone yang masih memerlukan intervensi manusia dalam pengoperasian dan pengendaliannya, LAWS hanya membutuhkan algoritma. Senjata ini mampu beroperasi di udara, darat, laut, bahkan luar angkasa. Karena sifatnya yang mematikan dan otomatis ini, LAWS menimbulkan kontroversi dan menjadi bahan perbincangan dalam forum-forum internasional.

Sistem persenjataan ini menjadi kontroversial karena ada yang mendukung dan ada yang menentang keras. Militer adalah salah satu pihak pendukung LAWS karena beberapa faktor. Pertama, LAWS membuka kesempatan dan peluang baru dalam efektifitas peperangan di mana dengan sistem ini korban jiwa akan jauh berkurang. Kedua, jika dibandingkan dengan drone, LAWS bisa melakukan operasi dalam waktu yang bersamaan. Terkait poin ini Rie Selengkapnya...

Diterbitkan 07 Oct 2019

Peluncuran dan Bedah Buku “Sisi Gelap Perang Asia”


Pusat Penelitian Politik LIPI kembali bekerjasama dengan Penerbit Buku Kompas menggelar Peluncuran dan Bedah Buku Sisi Gelap Perang Asia pada 20 September 2019. Bertempat di Ruang Seminar Pusat Data dan Dokumentasi  Ilmiah (PDDI) LIPI, buku karya Indonesianis asal Jepang.

Prof. Aiko Kurasawa ini dibahas oleh tiga orang pakar di bidangnya masing-masing, yaitu Prof. Asvi Warman Adam (Profesor Riset LIPI bidang Sejarah Sosial dan Politik), Dr. Rushdy Hoesein (Sejarawan sekaligus Ketua Dewan Pembina Komunitas Historia Indonesia), dan Dr. Meta Sekar Puji Astuti (Dosen di Departemen Sastra Jepang Universitas Hasanuddin), dengan moderator Dr. M. Haripin, peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI. Acara dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI, Prof. Dr. Firman Noor, MA. Dalam pembukaannya, Prof. Firman menekankan bahwa buku ini penting karena mengisi missing link selama 12 tahun, antara 1945-1957, dalam hubungan Indonesia dan Jepang. Hal tersebut menjadi kekuatan buku setebal 236 halaman ini karena tidak banyak yang membahas periode pasca 1945 hingga dibukanya hubungan diplomatik tahun 1958, apalagi sebagai sebuah kajian sejarah yang berorientasi kepada wong cilik, mereka yang terabaikan dan memiliki kesamaan nasib akibat dipersulit oleh perang. Selanjutnya, keynote speech dari Dr. Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan K Selengkapnya...

Diterbitkan 06 Oct 2019

Seminar Women, Islam, and Politics: Indonesia and India


Demokratisasi di negara-negara berkembang telah memperluas kesempatan bagi perempuan untuk lebih banyak berperan dalam bidang politik dan ekonomi. Khususnya di Indonesia dan India, dua negara demokrasi terbesar di Asia, peran perempuan tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan negara-negara tersebut untuk mencapai posisinya sekarang. Dalam perpolitikan, kedua negara ini telah melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan, seperti Megawati Soekarno Putri dan Indhira Gandhi. Perempuan juga telah menjadi penggerak perekonomian melalui kegiatan formal maupun informal dalam berbagai sektor.

Untuk melihat dan membandingkan peran perempuan dari kedua negara, maka Pusat Penelitian Politik LIPI bekerjasama dengan University of New South Wales-Sydney mengadakan seminar intern bertajuk “Women, Islam, and Politics: Indonesia and India” pada tanggal 22 Agustus 2019 di Ruang Seminar Pusat Penelitian Politik LIPI. Dengan moderator Dr. Kurniawati Hastuti Dewi, koordinator kajian gender dan politik Pusat Penelitian Politik LIPI, diskusi ini menghadirkan tiga orang pembicara, yaitu Dr. Tanya Jankimow, pengajar senior University of New South Wales, Sydney; Prof. George Mathew, Ketua Institute of Social Sciences, New Delhi, India; dan Associate Professor Minako Sakai, juga dari University of New South Wales-Sydney.

Pembicara pertama, Prof. George Mathew mempresentasikan paparan berjudul “Women in Political Process in India: Way Forward”. Ia membuka paparannya dengan menceritakan seorang tokoh pergerakan kemerdekaan bernama Aruna Asaf Ali yang banyak melakukan protes dan akhirnya berimplikasi pada perubahan sistem di India. Aruna adalah tokoh yang p Selengkapnya...